Resensi Film: Lights Out (2016)

Tahun 2013 David F. Sandberg membuat film horor pendek berjudul Lights Out yang berdurasi nggak lebih dari 3 menit. Film tersebut mendapat pujian dan banyak dibahas oleh para penggemar film di Eropa dan Amerika. Kita yang tinggal di Indonesia waktu tahun 2013 nggak ikutan membahas film pendek tersebut, di sini kita malah sibuk memilih kubu Capres mana yang akan kita pilih saat Pemilu Presiden 2014. Iya kan?

Martin (Gabriel Bateman) adalah seorang anak malang yang ditinggal mati Bapaknya karena dibunuh setan yang takut cahaya atau apapun yang terang. Semenjak kematian sang Bapak, Martin hidup dengan Ibunya, Sophie (Maria Bello) yang punya penyakit psikis semacam depresi kayak yang di derita Marshanda.

lightsout_diana

Hampir tiap malam Martin nggak bisa tidur tenang, karena Sophie punya teman gaib yang di film ini kita ketahui namanya adalah Diana (Alicia Vela-Bailey). Lama kelamaan Martin merasa terganggu dengan kemunculan Diana yang selalu meneror jam tidurnya. Untungnya Martin masih punya kakak tiri bernama Rebecca (Teresa Palmer). Rebecca ini tampak seperti perempuan tangguh, dia suka musik metal, dia mengkoleksi poster tengkorak, dia punya poster  band Heavy Metal asal Swedia bernama Ghost di kamarnya, tapi dia juga suka band jelek bernama Avenged Sevenfold.

Rebecca yang dapat laporan keanehan yang dialami Martin lalu memutuskan untuk mengurus Martin. Setelah mendengar pengakuan Martin tentang Diana, Rebecca sebagai kakak yang baik pun percaya dengan apa yang dikatakan Martin, karena ternyata dia pun punya pengalaman masa kecil yang berhubungan dengan Diana. Rebecca dengan dibantu teman cowok berstatus friendzone-tapi-diboboin bernama Brett (Alexander DiPersia), akhirnya berusaha membongkar keanehan yang dialami Sophie dan menguak siapa itu sebenarnya Diana.

lo-fp-036

Ternyata oh ternyata, diketahuilah bahwa Sophie muda pernah masuk Rumah Sakit Jiwa. Disitulah Sophie kenal dengan Diana yang diketahui mempunyai penyakit kelainan pada kulitnya dan nggak bisa terkena cahaya. Diana mati di Rumah Sakit Jiwa Mulberry Hill, kematiannya ternyata membuat arwahnya mengikuti Sophie. Diana sangat terobsesi dengan Sophie, saya nggak tau sebenarnya Diana ini semacam arwah penasaran lesbian atau gimana, tapi yang pasti Diana selalu cemburu saat Sophie berada di dekat anak-anaknya. Saking terobsesinya dengan Sophie, bahkan Diana pun meneror Rebecca, Martin dan Brett yang berusaha untuk menolong Sophie terbebas dari pengaruh Diana. Dan disitulah klimaks serta ketegangan film ini terjadi.

——-

David F. Sandberg adalah sutradara film pendek Lights Out yang kemudian didapuk untuk menjadi sutradara Lights Out versi layar lebar. Bekerja sama dengan Eric Heisserer sebagai penulis naskah, David F Sandberg mengembangkan ide film pendek menjadi film layar lebar. Sudah pasti itu bukan hal yang mudah. Mengembangkan film pendek menjadi film layar lebar butuh banyak aspek agar filmnya tidak menjadi monoton, lebih lagi reputasi Lights Out sebagai film pendek yang mendapat pujian semakin berat kalau ternyata versi layar lebarnya buruk.

Gabriel Bateman bermain dengan baik sebagai anak kecil yang ketakutan di sini. Gabriel mengingatkan kepada Haley Joel-Osment di film Sixth Sense. Anak kecil yang menanggung beban ketakutan dan ketidaknyamanan atas kondisi rumahnya, semua diperankan dengan baik oleh Gabriel Bateman tanpa harus konsultasi kepada Kak Seto dan Komnas Anak.

22LIGHTSOUTSUB-facebookJumbo

Selebihnya para pemeran di film ini cukup pas menjalankan peran mereka. Alicia Vela-Bailey tidak menemukan kesulitan menjadi Diana, tugasnya hanya menghindari lampu, dia tidak perlu bersuara karena suara Diana di film ini sepertinya diambil dari stock suara film Insidious. Atau bahkan 2 orang polisi kulit hitam yang mati di film ini pun cukup pas berperan Cuma untuk dibunuh. Bukannya bersikap rasis atau apalah namanya, tapi pada hakikatnya orang kulit hitam selalu mati duluan di film horor kan? Silakan tonton lagi Devil buatan M. Night Shaymalan kalau situ nggak percaya.

Terlepas dari nama besar James Wan sebagai produser, untungnya film ini bisa menjadi film yang menyenangkan. David F. Sandberg tahu bagaimana menerjemahkan Lights Out dengan durasi yang lebih panjang dari film pendek buatannya. David F. Sandberg tahu bagaimana menakuti penonton dengan bermain-main dengan lampu yang mati-hidup. Walau pun masih tercium tipikal horor buatan James Wan, seperti lokasi ruangan bawah tanah sebagai letak kengerian, tapi setidaknya David F. Sandberg mampu menerjemahkan horor buatannya sendiri. Ada adegan menarik saat setan yang takut cahaya harus berhadapan dengan lampu  dari alarm mobil.

Mau tidak mau, walaupun kemunculan setan atau arwah gentayangan atau teman gaib atau apalah namanya kelewat sangat sering, tapi itu pun tidak mengurangi ketegangan film ini. Kalau kita bisa menerima muka Ratna Saru… eh Valak, di Film The Conjuring 2 sejak awal mula film berlangsung, tentunya bukan masalah kalau kita melihat kemunculan Diana yang kelewat sering di film ini. Dan sekali lagi ini adalah film horor yang menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s