Resensi Film: 3 Srikandi (2016)

Orang-orang yang pernah merasakan hidup di Indonesia era 80an pasti tahu bagaimana ‘sepinya’ hidup di zaman itu. Satu-satunya channel TV yang bisa ditonton hanyalah TVRI, dan setiap orang yang nonton TVRI di tahun 1980an pasti tahu bagaimana sendunya muka Tuti Adhitama. Di zaman itu, populasi pemilik TV sama langkanya seperti kecerdasan pendukung Wahabi di zaman ini. Jadi kalau saat itu siaran TV menayangkan pertandingan olahraga maka sudah dipastikan seluruh Rakyat Indonesia akan berduyun-duyun menonton TV di Kelurahan.

Adalah Donald Pandiangan (Reza Rahadian), yang biasa dipanggil dengan nama Bang Pandi, mantan atlit nasional cabang Panahan yang mendapat julukan ‘Robin Hood Indonesia.’ Bang Pandi mundur dari karir atlitnya karena kecewa dengan pemerintah yang urung mengirimkan kontingen atlit Indonesia untuk berlaga di Moskow. Bang Pandi lalu demoral dan marah, beliau memutuskan untuk menghilang dan mundur dari dunia atlit. Beliau jatuh terperosok ke dalam hal yang dibenci oleh Uni Fahira, menenggak miras dan mabuk-mabukan.

Udi Harsono (Donny Damara) adalah Sekjen Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI) yang sedang mempersiapkan atlit Panahan Indonesia untuk berlaga di Olimpiade Seoul tahun 1988. Singkat cerita, dengan berperan seperti John Bosley bagi Charlie’s Angels, akhirnya Udi Hartono akhirnya menemukan 3 orang perempuan bakal atlit Panahan yang siap untuk digodok demi berlaga di Olimpiade. Tapi kendalanya adalah, siapa yang akan menjadi pelatih mereka?

3-Srikandi-dok-01

Tanpa perlu bersusah payah menggunakan metode Bing Bang Theory  buatan Stephen Hawking, kita pasti dapat menebak bahwa Bang Pandi adalah orang yang akan melatih 3 orang perempuan yang dijuluki 3 Srikandi itu. Udi Harsono berhasil membujuk Bang Pandi dengan cara yang kalau dipikir-pikir lebih mudah daripada membujuk Nikita Mirzani untuk mengenakan Bra. Akhirnya Bang Pandi pun menyetujui melatih 3 Srikandi dengan catatan: Bang Pandi boleh pura-pura berperan Jose Mourinho dalam mendisiplinkan kepelatihannya. Kesepakatan pun tercapai, dibawalah 3 Srikandi ke Sukabumi untuk mengikuti Pelatnas.

Dengan naik Kereta dari Stasiun Kota, sampailah Suma, Yana dan Lilies di kota Sukabumi. Harapan mendapat lokasi Pelatnas yang memadai dan bagus ternyata tidak sejalan dengan apa yang mereka harapkan. Mereka tidak tinggal di hotel atau di pusat pelatihan atlit canggih seperti London Colney milik Arsenal FC. Mereka malah hanya mendapatkan Villa kotor di lokasi angker, yang lebih cocok untuk jadi setting lokasi film horor murahan buatan Koya Pagayo.

Yani-Lilis-Kusuma-3-SRIKANDI-Donald-2-e1470217349659

Tapi genderang sudah ditabuh, tugas 3 Srikandi hanyalah berlatih untuk Olimpiade demi mengharumkan nama bangsa Indonesia yang sudah dibuat busuk oleh Rezim Cendana. Dengan hanya diberi hari libur pada akhir pekan, 3 Srikandi berlatih dibawah kepemimpinan Bang Pandi yang galak. Tapi kegalakan Bang Pandi bukan tanpa alasan, kalau Claudio Ranieri yang galak saja dapat membuat klub seperti Leicester City juara Premier League, begitu pun Bang Pandi.

Konflik personal terjadi selama kepelatihan. Mulai dari Suma yang menjalin hubungan asmara dengan Chico Jericho karena DVD, eh bukan ding! Itu plot cerita film lain. Di sini Suma menjalin asmara dengan pelatih dari tim Panahan pria. Suma menjalin asmara yang tidak direstui Bang Pandi. Yana pun memiliki masalah sendiri, di sela Pelatnas, dia harus merampungkan skripsinya dan juga hubungannya dengan sang Ayah (Joshua Pandelaki) tidak terlalu baik, karena sang Ayah tidak mengingkan anaknya untuk berprofesi sebagai atlit. Bapaknya Yana berkata tidak, nggak tahu kalo Mas Anang dan Mbak Titi? *insert meme indonesian idol, here*

bcl-chelsea-islan-dan-tara-basro-bersahabat-karena-3-srikandi-ZUO0CmlMfe

Lilies pun sama halnya dengan 2 orang rekannya. Ibunda Lilies tidak ingin Lilies menjadi atlit, Ibunya juga tidak ingin Lilies menikah dengan pacarnya yang atlit Karate. Ibunda Lilies ingin dia menikah dengan seorang pengusaha furniture (Bukan pak Jokowi), yang lebih memiliki masa depan daripada seorang atlit. Di tengah Pelatnas, Ibunda Lilies meninggal karena kecelakaan. Sedih deh pokoknya, Ya Allah…

Dengan semua konflik ditengah Pelatnas, justru membuat tekad mereka bulat untuk memenangkan medali bagi Indonesia. Bang Pandi pun semakin berapi-api dalam melatih anak didiknya. Sampai hari yang ditentukan pun tiba. Setelah bersalam dengan Pak Presiden Indonesia waktu itu (Gue males nyebut namanya!). Akhirnya berangkatlah kontingen Panahan menuju Olimpiade Seoul tahun 1988. Tentunya keberangkatan mereka dengan diiringi doa restu dari seluruh rakyat Indonesia yang waktu itu sedang terkena demam Catatan Si Boy.

Di Olimpiade Seoul 1988, 3 Srikandi berhasil menggondol medali perak bagi Indonesia dalam cabang Panahan. Semua itu berkat kerja keras Yana, Suma, Lilis dan Bang Pandi. Dan tentu saja Ujang (Indra Birowo), sidekick Bang Pandi.

——–

Ini adalah film yang berdasarkan kisah nyata sejarah. Tentunya kalau dilihat dari genre filmnya, ini adalah film olahraga, sport movie. Kita banyak punya film nasional yang bergenre sport movie, tapi rata-rata yang muncul adalah film dengan olahraga sepak bola atau badminton. 3 Srikandi mengusung panahan, dan itu adalah hal baru dalam genre sport movie film nasional. Ditambah lagi ini adalah film berdasarkan kejadian nyata, apa bahasa kerennya? Based On True Event.

003020200_1437747654-3_Srikandi

Mas Iman Brotoseno tahu benar bagaimana membesut film berdasarkan sejarah, dan sebagai film layar lebar pertama yang dia buat, saya menganggap Mas Iman sukses membuat film ini menjadi film yang menarik. Mas Iman tahu bagaimana tahun 1980an itu terjadi, mulai dari tabiat remajanya, sampai hal-hal yang menjadi trend di tahun tersebut digelontorkan Mas Iman di film ini. Ada colongan Bung Karno yang tampil di film ini. Mas Iman yang Soekarnois, dan atas nama Arsenal FC, saya yang juga seorang Gooner pun bangga dengan hasil kerja Mas Iman di film ini. Victory Concordia Crescit.

Chelsea Islan adalah yang mampu memikat dengan aktingnya di film ini. Logat Jawa Timur yang medok, umpatan khas Jawa Timur pun keluar dengan mulus dari mulut Chelsea yang indah itu. Chelsea cakap dalam memerankan Lilies yang teledor dan sembrono. Bunga Citra Lestari bermain dalam wilayah yang aman, begitu juga Tara Basro. Saya berpendapat bahwa Bunga Citra Lestari dan Tara Basro ibaratnya hanya pelengkap di film ini. Tapi itu bukan masalah, toh sama seperti Kelly Rowland dan Michelle Williams dalam karir Beyonce Knowles, yang hanya sebagai pelengkap.

Kita nggak perlu membahas akting Reza Rahadian, dia mampu berdialek seperti Bang Pandi, walaupun dalam segi raut wajah saya rasa Reza terlalu sempurna sebagai Donald Pandiangan. Entah kenapa saya berpikir budayawan JJ Rizal lebih cocok memerankan Donald Pandiangan, tapi apa daya, JJ Rizal bukan seorang aktor. Maka pilihan menjadikan Reza Rahadian sebagai Donald Pandiangan adalah pilihan terakhir yang harus diambil dengan daya tarik bagi film ini agar laku. Dan untungnya film ini laku ditonton.

Menurut saya, secara keseluruhan 3 Srikandi adalah film yang layak tonton. Hampir tidak ada hal minor di film ini. Film ini memang layak tonton,minimal ditonton sekali, karena kalau ditonton 2 kali kita nantinya akan sadar bahwa di tahun 1980 seorang nelayan tidak akan mungkin antusias mengikuti kompetisi Olimpiade lewat radio di tengah laut. Di tahun 1980an, orang mendengarkan radio dengan antusias hanya saat Sandiwara radio Saur Sepuh. Jadi saya kira terlalu mengada-ada kalau sampai seorang nelayan segitu relanya mengikuti 3 Srikandi lewat radio.

Selebihnya film ini adalah film yang baik dan layak ditonton, sekali saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s